Senin, 25 Februari 2013

Biografi Pak Soeharto


Soeharto adalah Presiden kedua Republik Indonesia. Beliau lahir di Kemusuk, Yogyakarta, tanggal 8 Juni 1921. Bapaknya bernama Kertosudiro seorang petani yang juga sebagai pembantu lurah dalam pengairan sawah desa, sedangkan ibunya bernama Sukirah. 

Soeharto masuk sekolah tatkala berusia delapan tahun, tetapi sering pindah. Semula disekolahkan di Sekolah Desa (SD) Puluhan, Godean. Lalu pindah ke SD Pedes, lantaran ibunya dan suaminya, Pak Pramono pindah rumah, ke Kemusuk Kidul. Namun, Pak Kertosudiro lantas memindahkannya ke Wuryantoro. Soeharto dititipkan di rumah adik perempuannya yang menikah dengan Prawirowihardjo, seorang mantri tani. 

Sampai akhirnya terpilih menjadi prajurit teladan di Sekolah Bintara, Gombong, Jawa Tengah pada tahun 1941. Beliau resmi menjadi anggota TNI pada 5 Oktober 1945. Pada tahun 1947, Soeharto menikah dengan Siti Hartinah seorang anak pegawai Mangkunegaran. 

Perkawinan Letkol Soeharto dan Siti Hartinah dilangsungkan tanggal 26 Desember 1947 di Solo. Waktu itu usia Soeharto 26 tahun dan Hartinah 24 tahun. Mereka dikaruniai enam putra dan putri; Siti Hardiyanti Hastuti, Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Herijadi, Hutomo Mandala Putra dan Siti Hutami Endang Adiningsih. 

Jenderal Besar H.M. Soeharto telah menapaki perjalanan panjang di dalam karir militer dan politiknya. Di kemiliteran, Pak Harto memulainya dari pangkat sersan tentara KNIL, kemudian komandan PETA, komandan resimen dengan pangkat Mayor dan komandan batalyon berpangkat Letnan Kolonel. 

Pada tahun 1949, dia berhasil memimpin pasukannya merebut kembali kota Yogyakarta dari tangan penjajah Belanda saat itu. Beliau juga pernah menjadi Pengawal Panglima Besar Sudirman. Selain itu juga pernah menjadi Panglima Mandala (pembebasan Irian Barat). 

Tanggal 1 Oktober 1965, meletus G-30-S/PKI. Soeharto mengambil alih pimpinan Angkatan Darat. Selain dikukuhkan sebagai Pangad, Jenderal Soeharto ditunjuk sebagai Pangkopkamtib oleh Presiden Soekarno. Bulan Maret 1966, Jenderal Soeharto menerima Surat Perintah 11 Maret dari Presiden Soekarno. Tugasnya, mengembalikan keamanan dan ketertiban serta mengamankan ajaran-ajaran Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno. 

Karena situasi politik yang memburuk setelah meletusnya G-30-S/PKI, Sidang Istimewa MPRS, Maret 1967, menunjuk Pak Harto sebagai Pejabat Presiden, dikukuhkan selaku Presiden RI Kedua, Maret 1968. Pak Harto memerintah lebih dari tiga dasa warsa lewat enam kali Pemilu, sampai ia mengundurkan diri, 21 Mei 1998. 

residen RI Kedua HM Soeharto wafat pada pukul 13.10 WIB Minggu, 27 Januari 2008. Jenderal Besar yang oleh MPR dianugerahi penghormatan sebagai Bapak Pembangunan Nasional, itu meninggal dalam usia 87 tahun setelah dirawat selama 24 hari (sejak 4 sampai 27 Januari 2008) di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta. 

Berita wafatnya Pak Harto pertama kali diinformasikan Kapolsek Kebayoran Baru, Kompol. Dicky Sonandi, di Jakarta, Minggu (27/1). Kemudian secara resmi Tim Dokter Kepresidenan menyampaikan siaran pers tentang wafatnya Pak Harto tepat pukul 13.10 WIB Minggu, 27 Januari 2008 di RSPP Jakarta akibat kegagalan multi organ. 

Kemudian sekira pukul 14.40, jenazah mantan Presiden Soeharto diberangkatkan dari RSPP menuju kediaman di Jalan Cendana nomor 8, Menteng, Jakarta. Ambulan yang mengusung jenazah Pak Harto diiringi sejumlah kendaraan keluarga dan kerabat serta pengawal. Sejumlah wartawan merangsek mendekat ketika iring-iringan kendaraan itu bergerak menuju Jalan Cendana,
mengakibatkan seorang wartawati televisi tertabrak. 

Di sepanjang jalan Tanjung dan Jalan Cendana ribuan masyarakat menyambut kedatangan iringan kendaraan yang membawa jenazah Pak Harto. Isak tangis warga pecah begitu rangkaian kendaraan yang membawa jenazah mantan Presiden Soeharto memasuki Jalan Cendana, sekira pukul 14.55, Minggu (27/1). 

Seementara itu, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla dan sejumlah menteri yang tengah mengikuti rapat kabinet terbatas tentang ketahanan pangan, menyempatkan mengadakan jumpa pers selama 3 menit dan 28 detik di Kantor Presiden, Jakarta, Minggu (27/1). Presiden menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas wafatnya mantan Presiden RI Kedua Haji Muhammad Soeharto. 

FOTO FOTO KENANGAN MANTAN PRESIDEN SOEHARTO





Referensi :
- http://www.wattpad.com/79641-biografi-soeharto 

Biografi BJ. Habibie


Presiden ketiga Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie dilahirkan di Pare-Pare, Sulawesi Selatan, pada tanggal 25 Juni 1936. Beliau merupakan anak keempat dari delapan bersaudara, pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA. Tuti Marini Puspowardojo. Habibie yang menikah dengan Hasri Ainun Habibie pada tanggal 12 Mei 1962 ini dikaruniai dua orang putra yaitu Ilham Akbar dan Thareq Kemal. Masa kecil Habibie dilalui bersama saudara-saudaranya di Pare-Pare, Sulawesi Selatan. Sifat tegas berpegang pada prinsip telah ditunjukkan Habibie sejak kanak-kanak. Habibie yang punya kegemaran menunggang kuda dan membaca ini dikenal sangat cerdas ketika masih menduduki sekolah dasar, namun ia harus kehilangan bapaknya yang meninggal dunia pada 3 September 1950 karena terkena serangan jantung saat ia sedang shalat Isya.

Tak lama setelah ayahnya meninggal, Ibunya kemudian menjual rumah dan kendaraannya dan pindah ke Bandung bersama Habibie, sepeninggal ayahnya, ibunya membanting tulang membiayai kehidupan anak-anaknya terutama Habibie, karena kemauan untuk belajar Habibie kemudian menuntut ilmu di Gouvernments Middlebare School. Di SMA, beliau mulai tampak menonjol prestasinya, terutama dalam pelajaran-pelajaran eksakta. Habibie menjadi sosok favorit di sekolahnya.


Karena kecerdasannya, Setelah tamat SMA di bandung tahun 1954, beliau masuk di ITB (Institut Teknologi Bandung), Ia tidak sampai selesai disana karena beliau mendapatkan beasiswa dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk melanjutkan kuliahnya di Jerman, karena mengingat pesan Bung Karno tentang pentingnya Dirgantara dan penerbangan bagi Indonesia maka ia memilih jurusan Teknik Penerbangan dengan spesialisasi Konstruksi pesawat terbang di  Rhein Westfalen Aachen Technische Hochschule (RWTH)Ketika sampai di Jerman, beliau sudah bertekad untuk sunguh-sungguh dirantau dan harus sukses, dengan mengingat jerih payah ibunya yang membiayai kuliah dan kehidupannya sehari-hari. Beberapa tahun kemudian, pada tahun 1955 di Aachean, 99% mahasiswa Indonesia yang belajar di sana diberikan beasiswa penuh. Hanya beliaulah yang memiliki paspor hijau atau swasta dari pada teman-temannya yang lain Musim liburan bukan liburan bagi beliau justru kesempatan emas yang harus diisi dengan ujian dan mencari uang untuk membeli buku. Sehabis masa libur, semua kegiatan disampingkan kecuali belajar. Berbeda dengan teman-temannya yang lain, mereka; lebih banyak menggunakan waktu liburan musim panas untuk bekerja, mencari pengalaman dan uang tanpa mengikuti ujian.



Beliau mendapat gelar Diploma Ing, dari Technische Hochschule, Jerman tahun 1960 dengan predikat Cumlaude (Sempurna) dengan nilai rata-rata 9,5, Dengan gelar insinyur, beliau mendaftar diri untuk bekerja di Firma Talbot, sebuah industri kereta api Jerman. Pada saat itu Firma Talbot membutuhkan sebuah wagon yang bervolume besar untuk mengangkut barang-barang yang ringan tapi volumenya besar. Talbot membutuhkan 1000 wagon. Mendapat persoalan seperti itu, Habibie mencoba mengaplikasikan cara-cara kontruksi membuat sayap pesawat terbang yang ia terapkan pada wagon dan akhirnya berhasil.


Setelah itu beliau kemudian melanjutkan studinya untuk gelar Doktor di Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachean kemudian Habibie menikah pada tahun 1962 dengan Hasri Ainun Habibie yang kemudian diboyong ke Jerman, hidupnya makin keras, di pagi-pagi sekali Habibie terkadang harus berjalan kaki cepat ke tempat kerjanya yang jauh untuk menghemat kebutuhan hidupnya kemudian pulang pada malam hari dan belajar untuk kuliahnya, Istrinya Nyonya Hasri Ainun Habibie harus mengantri di tempat pencucian umum untuk mencuci baju untuk menhemat kebutuhan hidup keluarga. Pada tahun 1965 Habibie mendapatkan gelar Dr. Ingenieur dengan penilaian summa cumlaude (Sangat sempurna) dengan nilai rata-rata 10 dari Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachean.


Rumus yang di temukan oleh Habibie dinamai "Faktor Habibie" karena bisa menghitung keretakan atau krack propagation on random sampai ke atom-atom pesawat terbang sehingga ia di juluki sebagai "Mr. Crack". Pada tahun 1967, menjadi Profesor kehormatan (Guru Besar) pada Institut Teknologi Bandung. dari tempat yang sama tahun 1965. Kejeniusan dan prestasi inilah yang mengantarkan Habibie diakui lembaga internasional di antaranya, Gesselschaft fuer Luft und Raumfahrt (Lembaga Penerbangan dan Angkasa Luar) Jerman, The Royal Aeronautical Society London (Inggris), The Royal Swedish Academy of Engineering Sciences (Swedia), The Academie Nationale de l'Air et de l'Espace (Prancis) dan The US Academy of Engineering (Amerika Serikat). Sementara itu penghargaan bergensi yang pernah diraih Habibie di antaranya, Edward Warner Award dan Award von Karman yang hampir setara dengan Hadiah Nobel. Di dalam negeri, Habibie mendapat penghargaan tertinggi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Ganesha Praja Manggala Bhakti Kencana.




Langkah-langkah Habibie banyak dikagumi, penuh kontroversi, banyak pengagum namun tak sedikit pula yang tak sependapat dengannya. Setiap kali, peraih penghargaan bergengsi Theodore van Karman Award, itu kembali dari “habitat”-nya Jerman, beliau selalu menjadi berita. Habibie hanya setahun kuliah di ITB Bandung, 10 tahun kuliah hingga meraih gelar doktor konstruksi pesawat terbang di Jerman dengan predikat Summa Cum laude. Lalu bekerja di industri pesawat terbang terkemuka MBB Gmbh Jerman, sebelum memenuhi panggilan Presiden Soeharto untuk kembali ke Indonesia.


Di Indonesia, Habibie 20 tahun menjabat Menteri Negara Ristek/Kepala BPPT, memimpin 10 perusahaan BUMN Industri Strategis, dipilih MPR menjadi Wakil Presiden RI, dan disumpah oleh Ketua Mahkamah Agung menjadi Presiden RI menggantikan Soeharto menjadi Presiden Republik Indonesia ke 3. Soeharto menyerahkan jabatan presiden itu kepada Habibie berdasarkan Pasal 8 UUD 1945. Sampai akhirnya Habibie dipaksa pula lengser akibat refrendum Timor Timur yang memilih merdeka. Pidato Pertanggungjawabannya ditolak MPR RI. Beliau pun kembali menjadi warga negara biasa, kembali pula hijrah bermukim ke Jerman.

Saya bilang ke Presiden, kasih saya uang 500 juta Dollar dan N250 akan menjadi pesawat yang terhebat yang mengalahkan ATR, Bombardier, Dornier, Embraer dll dan kita tak perlu tergantung dengan negara manapun. Tapi keputusan telah diambil dan para karyawan IPTN yang berjumlah 16 ribu harus mengais rejeki di negeri orang dan gilanya lagi kita yang beli pesawat negara mereka!

Pada tanggal 22 Mei 2010, Hasri Ainun Habibie, istri BJ Habibie, meninggal di Rumah Sakit Ludwig Maximilians Universitat, Klinikum, Muenchen, Jerman. Ia meninggal pada hari Sabtu pukul 17.30 waktu setempat atau 22.30 WIB. Kepastian meninggalnya Hasri Ainun dari kepastian Ali Mochtar Ngabalin, mantan anggota DPR yang ditunjuk menjadi wakil keluarga BJ Habibie. Ini menjadi duka yang amat mendalam bagi Mantan Presiden Habibie dan Rakyat Indonesia yang merasa kehilangan. Bagi Habibie, Ainun adalah segalanya. Ainun adalah mata untuk melihat hidupnya. Bagi Ainun, Habibie adalah segalanya, pengisi kasih dalam hidupnya. Namun setiap kisah mempunyai akhir, setiap mimpi mempunyai batas.

"Selama 48 tahun saya tidak pernah dipisahkan dengan Ainun, .......ibu Ainun istri saya. Ia ikuti kemana saja saya pergi dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar. Dik, kalian barangkali sudah biasa hidup terpisah dengan istri, you pergi dinas dan istri di rumah, tapi tidak dengan saya. Gini ya............saya mau kasih informasi........... Saya ini baru tahu bahwa ibu Ainun mengidap kanker hanya 3 hari sebelumnya, tak pernah ada tanda-tanda dan tak pernah ada keluhan keluar dari ibu........." Papar BJ Habibie.

Sabtu, 16 Februari 2013

Cerpen Fiksi Naratif



Ku Kejar Restu Orang Tua Mu

Oleh: Marcus Dewantoro
Jam dinding kelas terus berdetik seakan mengisyaratkan aku tuk menengoknya, kulihat saat ini pukul 14.30, tak berselang lama bel pulang berbunyi. Nah ini dia waktu yang ku tunggu akhirnya tiba juga, “pulang” itulah menjadi harapan semua pelajar. Benar sekali, sorak sorai seisi kelas pun menggambarkan sebuah kebahagiaan. Saatnya mengantarkan  pulang gadis cantik yang bernama Anita yang tak lain adalah pacarku sendiri, ya iyalah masak ya pacar orang aku anterin pulang. Pacarku adalah gadis yang suka berdandan natural tak pernah berdandan yang neko-neko. Orangnya simpel, dalam hal beragama pun dia pandai,  inilah yang membuat aku jatuh hati padanya. Oh iya kenalkan namaku Andi, kata ibuku sih aku ganteng. Hahaha tapi faktanya juga banyak kok cewek yang naksir sama aku, tapi hatiku tetap untuk dia. Aku dan Anita berpacaran semenjak kita berdua duduk dibangku SMK kelas 1, dan sekarang kami telah duduk dibangku kelas 3, hampir genap 2 tahun aku dan Anita berpacaran.
Kami berjalan bersama menuju tempat parkir sepeda motor, seperti biasanya aku yang menghantar jemput Anita, ini ku beranikan karena Ayah Anita selalu berangkat pagi-pagi sekali saat bekerja. Sepeda motor aku nyalakan,
“ Silahkan naik tuan putri”, bercandaku padanya.
“ Aduh apaan sih Ndi??” kata Anita dengan warna pipi yang memerah.
Hanya ku balas dengan senyuman.
“ Ndi, nanti sehabis maghrib kamu punya acara gak?”
“ Enggak kok, memang ada apa Nit??” tanyaku penuh senyum.
“ Kalau kamu gak ada acara mau kan temenin aku ke acara reunian temen SMPku?” (kata Anita dengan raut wajah penuh harapan)
“ Siap bos, tapi kamu udah izinkan sama ayah dan ibu ??” ujarku penuh canda.
“ Nyebelin kamu tu Ndi, aku cubit baru tahu rasa, udah izin tapi nanti kamu izin lagi ya Ndi takut gak dibolehin sama ayah.” (pinta Anita)
“Iya Nit, nanti aku minta izin sama ayah kamu deh.” ( langsung ku iyakan walau dalam hati terbesit perasaan takut, maklumlah karena ayahnya memang terkenal pemarah)
“Makasih ya Andi sayang” kata Anita dengan gaya khas manjanya.
“Pulang yuk Nit, keburu sore” kata ku untuk mengakhiri obrolan di tempat parkiran.
Anita bergegas menaiki sepeda motorku, Sepeda motorku perlahan menuju rumah Anita. Setelah sekitar 30 menit berlalu sampailah di depan rumah Anita. Dengan perlahan dia turun dari motorku.
“Makasih banyak ya Ndi, hati-hati pulangnya jangan ngebut, oh ya jangan lupa nanti ya Ndi” kata anita yang seperti biasa setelah aku mengantar dia pulang.
Kembali ku kendalikan motor ini tuk sampai ke rumahku, jalan demi jalan ku lalui dan akhirnya setelah beberapa saat sampai aku di depan rumah. Ku buka gerbang rumah, langsung ku menuju garasi rumah tuk meletakkan motor. Bergegas ku menuju kamar tidur, ku lepas sepatu, seragam sekolah dan peralatan sekolah. Ku ganti pakainku dengan baju santai, ku cuci tangan dan berjalan menuju ruang makan tuk mengisi perut ini. Tak berselang lama ku arahkan mataku ke balik cendela kamar,ku lihat dari cendela sinar matahari telah mulai redup.
“Dari pada nanti tergesa-gesa lebih baik aku mandi sekarang.” Clotehku sendirian.
Ku ambil handuk dan aku bergegas menuju kamar mandi, selasai mandi ku pakai baju yang ku pikir pas dan cocok untuk acara nanti. Ku semprot badan dan pakaianku dengan parfum, biar wangilah. Pukul 18.00 aku berangakat menuju rumah Anita, perasaan takut terus menghinggapiku. Takut apabila sesampainya dirumah Anita, ayah Anita trus mengusirku pulang apa dayaku jika itu terjadi?? Sepanjang perjalan pikiran itu terus mengahantuiku, namun semua itu ku fikir ulang.
“Alah, itu urusan belakangan yang penting aku sekarang sampai dulu di rumah Anita.” Kataku membakar semangat.
Maklumlah baru kali ini aku keluar malam dengan Anita, acara kami sebelum-sebelumnya selalu pada siang hari. Dan tak jarang kita pergi bersama tanpa minta izin dengan ayah Anita. Karena pernah waktu pertama kali aku minta izin sama Ayahnya habis-habisan aku dimarahin dikiranya aku cuma akan mempermainkan Anita. Aku sih memaklumi karena Anita adalah anak gadis satu-satunya dalam keluarganya. Dan jika aku boleh jujur aku tulus berpacaran dengan Anita dan tak pernah ada perasaan tuk hanya mempermainkannya. Dan sejujurnya pula ingin aku tuk mendapat restu dari kadua orang tuanya. Sekarang saatnya aku membuktikan pada orang tua Anita keseriusan cintaku pada Anita.
 “Yah, akan ku kejar restu Ayah dan ibumu Anita...“ kataku dalam perjalan dengan penuh semangat.
Sepanjang perjalanan clotehanku selalu keluar memercik semangat dan keberanianku tuk bertatap muka dengan ayah Anita serta tuk memintakan izin Anita mengikuti acara reunian teman SMPnya. Akhirnya sampai ku didepan rumah Anita, ku matikan motor dan ku buka helm yang sedari tadi membalut kepalaku. Tak dapat ku bohongi bahwa jatungku terus berdebar-debar, detaknya pun menjadi tak karuan semakin berdebar ketika aku mengetuk pintu rumah.
“Assalamu’alaikum ??” kata ku sedikit terbata-bata sambil ku ketuk pintu.
Ku dengar didalam rumah suara Anita sedang bersitegang dengan Ayahnya, entah mungkin Anita tak mendapat izin.
“Assalamu’alaikum ??” kataku kembali namun yang sekarang ku lantangkan suaraku.
“Wa’alaikum salam”, terdengar lirih suara Anita menjawab salamku.
Belum hilang suara Anita menjawab salamku, kini Ayahnya yang menjawab salamku dengan suara bagai petir yang mengelegar. Kini bertambah berdebar detak jantungku yang tadi sudah mulai normal. Keringat dingin mulai bercucuran keluar dari keningku pertanda ketakutanku, namun aku harus bisa tunjukan keberanianku.
“Ya Masuk”, kata ayah Anita dengan nada khasnya.
Aku pun bergegas masuk walau dengan perasaan yang sudah tak karuan ini. Langkahku perlahan memasuki rumah. Ku lihat wajah Anita telah memerah seakan menahan jatuhnya air mata.
“Ada perlu apa malam-malam datang ke sini??” tanya Ayah Anita bak seorang polisi yang baru saja menangkap seorang maling.
“Begini Pak, jikalau bapak mengizinkan,saya inginmenghantar Anita ke acara reunian SMPnya pak.” Kata ku setengah terbata-bata dengan perasaan sudah tak karuan.
“Malam-malam begini?? Kenapa tidak saat siang hari?? Nanti kalu ada apa-apa sama anak saya siapa yang mau tanggung  jawab??  Siapa ?? Kamu??” kata Ayah Anita yang nadanya semakin tinggi.
“Maka dari itu pak, Anita meminta tolong sama saya untuk mengantarnya ke acara reunian pak. Dan saya siap pak bertanggung jawab seandainya ada sesuatu yang menimpa Anita. Pak saya akan berusaha untuk menjaga Anita, saya mohon beri kesempatan kepada saya Pak”, kataku kian meyakinkan kepada Ayah Anita.
“Apa aku bisa percaya begitu saja dengan anak macam kamu?? Dengan bukti apa kamu bisa menjamin anak saya bisa pulang tepat waktu ke rumah tanpa kurang satu apapun??” tegas Ayah Anita seakan tak mempercayaiku.
“Ayah, aku minta izin keluar bersama Andi ke acara reunian temen SMP, Anita janji Anita akan pulang tepat waktu, dan Anita Akan jaga diri. Ayah percaya kan sama Anita??” pinta Anita yang seakan meyakinkan kepada Ayahnya.
Semakin aku tak tega Anita sampai merengek begitu tuk mendapatkan izin dari ayahnya.
“Pak, Andi janji akan menjaga Anita dan Andi akan mengantar Anita pulang tepat waktu. Apabila Bapak belum percaya ini saya tinggali nomor hp bapak dan ibu Andi. Silahkan dicek dulu nomernya Pak” yakinku kepada Ayah Anita.
Kulihat perubahan raut wajah Ayah Anita yang seakan mulai menaruh rasa percaya padaku.
“Hmm, baiklah. Andi, bapak titip Anita jaga baik-baik. Bapak sekarang percaya sama kamu, namun jika sampai terjadi apa-apa sama anakku. Kamu tanggung sendiri akibatnya.” Kata Ayah Anita yang mulai melihatkan senyumnya padaku.
“Sungguh pak??” tanyaku penuh harapan.
“Iya Ndi, dah sekarang berangkat keburu larut malam”, jawab Ayah Anita dengan sepercik senyum di wajahnya.
“Terimakasih ya Pak, Anita pasti Andi jaga baik-baik.”, kata ku sambil berjabat tangan dengan Ayah Anita.
Ayah Anita hanya menjawabnya dengan anggukan kepala, yang tersirat banyak arti bagiku.
“Yuk Anita, keburu telat.” Kataku mengajak Anita.
“Ayah, aku berangkat dulu ya.” Izin Anita dengan senyum bahagia.
“Hati-hati ya nak, jaga diri baik-baik pulangnya jangan kemalaman”, pesan Ayah Anita kepada Anita.
Anita berjabat tangan dan mencium tangan ayahnya. Ku pakai helm, dan mempersilahkan Anita tuk menaiki motorku. Kami pun berangkat menuju acara reunian temen SMP Anita dengan hati yang bahagia. Setelah beberapa saat sampailah kami di tempat acara. Tak berselang lama acara itu pun dimulai, terlihat raut wajah penuh kerinduan diantara mereka. Mereka saling jabat tangan, bercanda ria, saling bercerita.
Waktu kian larut malam dan pukul 22.00 acara itu selesai. Anita aku antar pulang, walau dingin mulai menghinggapi diriku, aku tetap satu tujuan yakni mengantar pulang Anita sampai rumah dengan selamat aku tak ingin kepercayaan yang telah diberikan Ayah Anita hilang. Jalanan yang sepi kami lewati bersama, tak ada perasaan takut yang merasuki aku. Setelah setengah jam perjalanan sampailah Aku dan Anita di rumah Anita. Mendengar suara motor, Ayah Anita keluar dan berdiri tepat didepan pintu seakan menyambut kepulangan anaknya.
“Ayah,” sapa Anita kepada Ayahnya dan mencium tangan ayahnya.
“Andi kesini”, panggil Ayah Anita kepadaku.
“Aduh, aku mau diapain ini??”, kata ku dalam hati yang seakan cemas.
“Ada, ada yang bisa saya bantu Pak??”, kata ku setengah terbata-bata.
“Bukan Ndi, Bapak mau mengucapkan banyak trimakasih sudah menjaga baik-baik putriku dan menghantar pulang tepat waktu.”, ucap Ayah Anita padaku dengan senyuman yang membuatku lega.
“Sama-sama Pak, Andi juga seneng Bapak bisa mempercayai Andi tuk menjaga putri Bapak.” Kata ku dengan perasaan yang begitu bahagia.
“Trimakasih ya Ndi dah temenin aku tadi, pulangnya hati-hati ya.”, kata Anita dengan senyum yang begitu manis.
“Berhubung sudah malam Andi minta izin mau pulang Pak.”, kata ku meminta izin kepada Ayah Anita.
“Hati-hati Ndi pulangnya, salam buat Bapak Ibumu dirumah.”, ujar Ayah Anita.
“Insya Allah Pak nanti sesampai di rumah saya sampaikan, Assalamu’alaikum Pak, assalamu’alaikum Anita.”, pamitku kepada Ayah Anita dan Anita.
Perlahan langkahku kian menjauh, kembali ku kenakan helm  serta jaket. Suasana sepi dan dingin seakan terus menemani perjalananku hingga akhirnya aku sampai di rumah tercinta.Sungguh malam ini bener-benar menjadi malam yang begitu indahdan mungkin tak kan bisa terhapus dari pikiranku. Dan semenjak itu pula hubunganku dengan Anita semakin baik karena Ayah Anita telah memberikan restu yang selama ini begitu aku harapkan.
 




Jumat, 15 Februari 2013

Peringatan Rasulallah Yang Dilupai

Peringatan Rasulullah yang DiLupai oleh Muslimah

    Wahai para muslimah masih ingatkah kamu tentang peringatan Raslulullah yg menyuruh kamu sekalian untuk menutupi aurat. Rasulullah pernah bersabda: "Wahai kaum wanita, bersedekahlah dan banyakkan beristighfar... karena sesungguhnya, aku mengetahui bahwa kamu golongan yang banyak sekali antara AHLI NERAKA". 

      Berapa ramaikah di kalangan kalian masih belum mengenakan tudung (jilbab)? Berapa ramaikah dikalangan kalian bertudung (berjilbab) tetapi... masih Nipis, Singkat & Menedahkan Dada? Berapa ramaikah di kalangan kalian bertudung sempurna tetapi...masih memakai Sendat, Menedahkan Lengan dan Kaki?? Berapa ramaikah di kalangan kalian berlebih-lebihan dalam perhiasan tetapi masih meragui keindahan asli oleh Allah? Berapa ramaikah di kalangan kalian bermanja-manja suara dengan lelaki selain keluarga? "Wahai muslimah sekalian masih ingatkah kalian akan peringatan Rasulullah SAW??

       Juga kalian para Suami jagalah aurat istri-istrimu, ingatkan dan bimbing mereka ke jalan yg di ridho'i oleh Allah SWT. Niscaya kalian adalah orang-orang yg beruntung. 

Sabtu, 15 Desember 2012


Asal Mula Kota Yogyakarta Hadiningrat


Antara tahun 1568-1586 di pulau Jawa bagian tengah, berdiri Kerajaan Pajang yang diperintah oleh Sultan Hadiwijaya, dimana semasa mudanya beliau terkenal dengan nama Jaka Tingkir. Dalam pertikaian dengan Adipati dari daerah Jipang yang bernama Arya Penangsang, beliau berhasil muncul sebagai pemenang atas bantuan dari beberapa panglima perangnya, antara lain adalah Ki Ageng Pemanahan dan putera kandungnya yang bernama Bagus Sutawijaya, seorang Hangabehi yang bertempat tinggal di sebelah utara pasar dan oleh karenanya beliau mendapat sebutan Ngabehi Loring Pasar

Sebagai balas jasa kepada Ki Ageng Pemanahan dan puteranya itu. Sultan Pajang kemudian memberikan anugerah sebidang daerah yang disebut Bumi Mentaok, yang masih berupa hutan belantara, dan kemudian dibangun menjadi sebuah "tanah perdikan".

Sesurut Kerajaan Pajang, Bagus Sutawijaya yang juga menjadi putera angkat Sultan Pajang, kemudian mendirikan Kerajaan Mataram di atas Bumi Mentaok dan mengangkat diri sebagai Raja dengan gelar Panembahan Senopati.

Pada permulaan abad ke-18, Kerajaan Mataram diperintah oleh Sri Sunan Paku Buwono II. Setelah beliau wafat, terjadilah pertikaian keluarga, antara lain salah seorang putera beliau dengan salah seorang adik beliau, yang merupakan pula hasil hasutan dari penjajah Belanda yang berkuasa saat itu. Pertikaian itu dapat diselesaikan dengan baik melalui perjanjian Giyanti, terjadi pada tahun 1755, yang isi pokoknya adalah Palihan Nagari, yang artinya pembagian Kerajaan menjadi dua. Yakni Kerajaan Surakarta Hadiningrat dibawah pemerintahan putera Sunan Paku Buwono III, dan Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat dibawah pemerintahan adik kandung Sri Sultan Hamengku Buwono ke I. Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat ini kemudian disebut sebagai Jogyakarta dan sering disingkat menjadi Jogja.

Pada tahun 1813, Sri Sultan Hamengku Buwono I, menyerahkan sebagian dari wilayah Kerajaannya yang terletak disebelah barat sungai Progo, kepada salah seorang puteranya yang bernama Pangeran Notokusumo untuk memerintah di daerah itu secara bebas, dengan kedaulatan yang penuh. Pangeran Notokusumo selanjutnya bergelar sebagai Sri Paku Alam I, sedangkan daerah kekuasaan beliau disebut Adikarto.

Jumat, 14 Desember 2012


NASKAH DIALOG DRAMA
“ Harta Penggoda Iman ”

Pada jam kerja di suatu kantor perpajakan, bos pajak tengah mengeluh tentang kebutuhan keluarganya. Di saat bersamaan malaikat dan setan berlomba , malaikat terus berusaha untuk menuntun bos pajak itu ke jalan yang benar dan sebaliknya setan justru sangat bersemngat untuk menjerumuskan bos pajak ke lembah dosa.
Bos pajak            : “ Duh aduh,tidak mama,anak sama saja setiap pagi kerjaanny mengeluh terus minta ini minta itu. Mama minta nya papa nanti siang di mall ada diskon besar besaran mama pngen baju kosmetik dan barang barang lain.ini yang anak mintanya pa beliin motor baru biyar bisa  motor motoran bareng sama temen. Huh pusing pusing gaji sama pengeluaran kok banyak banget keluarannya. Dari mana aku dapat uang lebih? ”
Malaikat              :  “ Sudahlah bos, jangan terlalu dipikir ajarkan saja istri dan anakmu untuk mengatur keuangan jangan boros boros.ajarkan juga mereka untuk dapat bersabar pasti ada jalan keluar untuk mencukupi  kebutuhan. “
Setan                                    : “ Heh bos, jangan mau dibohongi sama malaikat . hahahahah ,,sabar ??? jaman sekarang kok sabar ingat mau kasih makan apa anak dan istrimu. Sabar??? Hahaha bos bos jangan bodoh. ”
Tak lama kemudian sekertaris dari perusahaan “Maju Mundur” datang dan berniat untuk menyuap bos pajak agar pengurusan perpajakan perusahaannya bisa ringan.
Sekertaris           :  “Permisi.” (sambil mengetuk pintu ruangan bos pajak)
Setan                    : ” pucuk dilancip uang pun datang. Hahaha...  uang datang bos.”
Bos paajak          : “ Iya silahkan masuk.”
Malaikat              : ” Jangan tergiur bos tetap teguhkan iman mu. ”
Bos pajak             : “ Silahkan duduk, ada keperluan apa ? “
Sekertaris           : “ Teima kasih Pak, begini Pak saya diutus oleh perusahaan Maju Mundur untuk memberi bapak hadiah. “
Bos pajak             : “ Hadiah apa yang anda maksud ?? “(terkejut)
Sekertaris           : “ Hadiah bila bapak mau untuk mengurus agar perpajakan perusahaan kami  menjadi  ringan . ”
Setan                    : “ Terima saja bos ,hadiah kok ditolak. Pikir dulu bos! “
Malaikat              : “ Jangan tergoda bos itu uang haram, mau istri dan anak mu makan dari uang haram itu? “
Setan                                    : “ Hei malaikat jangan campuri urusan ku untuk menggoda orang ini, biarkan saja orang ini jadi orang yang tamak dan serakah. Kan juga dia sendiri yang menanggung akibatnya. “
Malaikat              : “ Bukan aku mencampuri urusanmu tapi ini tugas ku untuk menyadarkan dan menunutun orang orang ke jalan yang benar. Bos ingatlah bahwa apa yang kamu lakukan ini tak akan membawa kebahagiaan bagi keluargamu. “
Setan                                    : “ Tak usah pikir panjang sikat saja uang itu bos. Tak usah pedulikan apapun, kamu kan bisa bahagia dengan uang itu. “
Sekertaris           : “ Bagaimana pak apakah bapak bersedia untuk mengurus perpajakan perusahaan kami ? Ini hadiah sementara untuk bapak, sisa hadiah akan kami transfer bila bapak setuju. “
Bos pajak             : “ Hahahah tenang saja urusan perpajakan perusahaan saudari bisa saya atur. “ (bos pajak dan sekertaris berjabat tangan sambil menerima hadiah tersebut)
Akhirnya setan tertawa lepas karena ia berhasil  menjerumuskan bos pajak kelembah dosa, bos pajak itu lebih mengutamakan kepentingan keluarga dari pada profesionalitas untuk menjalankan kewajibannya. Hanya kita yang bisa memilih antara kebaikan dan keserakahan. Apa yang kita pilih kelak kita pertanggung jawabkan di akhir zaman. Sesungguhnya orang yang dapat bersabar  jalan keluar selalu menantinya



Karya ,



Marcus Dewantoro