Ku Kejar Restu Orang Tua Mu
Oleh: Marcus Dewantoro
Jam dinding kelas terus berdetik seakan mengisyaratkan aku tuk menengoknya, kulihat saat ini pukul 14.30, tak berselang lama bel pulang berbunyi. Nah ini dia waktu yang ku tunggu akhirnya tiba juga, “pulang” itulah menjadi harapan semua pelajar. Benar sekali, sorak sorai seisi kelas pun menggambarkan sebuah kebahagiaan. Saatnya mengantarkan pulang gadis cantik yang bernama Anita yang tak lain adalah pacarku sendiri, ya iyalah masak ya pacar orang aku anterin pulang. Pacarku adalah gadis yang suka berdandan natural tak pernah berdandan yang neko-neko. Orangnya simpel, dalam hal beragama pun dia pandai, inilah yang membuat aku jatuh hati padanya. Oh iya kenalkan namaku Andi, kata ibuku sih aku ganteng. Hahaha tapi faktanya juga banyak kok cewek yang naksir sama aku, tapi hatiku tetap untuk dia. Aku dan Anita berpacaran semenjak kita berdua duduk dibangku SMK kelas 1, dan sekarang kami telah duduk dibangku kelas 3, hampir genap 2 tahun aku dan Anita berpacaran.
Kami berjalan bersama menuju tempat parkir sepeda motor, seperti biasanya aku yang menghantar jemput Anita, ini ku beranikan karena Ayah Anita selalu berangkat pagi-pagi sekali saat bekerja. Sepeda motor aku nyalakan,
“ Silahkan naik tuan putri”, bercandaku padanya.
“ Aduh apaan sih Ndi??” kata Anita dengan warna pipi yang memerah.
Hanya ku balas dengan senyuman.
“ Ndi, nanti sehabis maghrib kamu punya acara gak?”
“ Enggak kok, memang ada apa Nit??” tanyaku penuh senyum.
“ Kalau kamu gak ada acara mau kan temenin aku ke acara reunian temen SMPku?” (kata Anita dengan raut wajah penuh harapan)
“ Siap bos, tapi kamu udah izinkan sama ayah dan ibu ??” ujarku penuh canda.
“ Nyebelin kamu tu Ndi, aku cubit baru tahu rasa, udah izin tapi nanti kamu izin lagi ya Ndi takut gak dibolehin sama ayah.” (pinta Anita)
“Iya Nit, nanti aku minta izin sama ayah kamu deh.” ( langsung ku iyakan walau dalam hati terbesit perasaan takut, maklumlah karena ayahnya memang terkenal pemarah)
“Makasih ya Andi sayang” kata Anita dengan gaya khas manjanya.
“Pulang yuk Nit, keburu sore” kata ku untuk mengakhiri obrolan di tempat parkiran.
Anita bergegas menaiki sepeda motorku, Sepeda motorku perlahan menuju rumah Anita. Setelah sekitar 30 menit berlalu sampailah di depan rumah Anita. Dengan perlahan dia turun dari motorku.
“Makasih banyak ya Ndi, hati-hati pulangnya jangan ngebut, oh ya jangan lupa nanti ya Ndi” kata anita yang seperti biasa setelah aku mengantar dia pulang.
Kembali ku kendalikan motor ini tuk sampai ke rumahku, jalan demi jalan ku lalui dan akhirnya setelah beberapa saat sampai aku di depan rumah. Ku buka gerbang rumah, langsung ku menuju garasi rumah tuk meletakkan motor. Bergegas ku menuju kamar tidur, ku lepas sepatu, seragam sekolah dan peralatan sekolah. Ku ganti pakainku dengan baju santai, ku cuci tangan dan berjalan menuju ruang makan tuk mengisi perut ini. Tak berselang lama ku arahkan mataku ke balik cendela kamar,ku lihat dari cendela sinar matahari telah mulai redup.
“Dari pada nanti tergesa-gesa lebih baik aku mandi sekarang.” Clotehku sendirian.
Ku ambil handuk dan aku bergegas menuju kamar mandi, selasai mandi ku pakai baju yang ku pikir pas dan cocok untuk acara nanti. Ku semprot badan dan pakaianku dengan parfum, biar wangilah. Pukul 18.00 aku berangakat menuju rumah Anita, perasaan takut terus menghinggapiku. Takut apabila sesampainya dirumah Anita, ayah Anita trus mengusirku pulang apa dayaku jika itu terjadi?? Sepanjang perjalan pikiran itu terus mengahantuiku, namun semua itu ku fikir ulang.
“Alah, itu urusan belakangan yang penting aku sekarang sampai dulu di rumah Anita.” Kataku membakar semangat.
Maklumlah baru kali ini aku keluar malam dengan Anita, acara kami sebelum-sebelumnya selalu pada siang hari. Dan tak jarang kita pergi bersama tanpa minta izin dengan ayah Anita. Karena pernah waktu pertama kali aku minta izin sama Ayahnya habis-habisan aku dimarahin dikiranya aku cuma akan mempermainkan Anita. Aku sih memaklumi karena Anita adalah anak gadis satu-satunya dalam keluarganya. Dan jika aku boleh jujur aku tulus berpacaran dengan Anita dan tak pernah ada perasaan tuk hanya mempermainkannya. Dan sejujurnya pula ingin aku tuk mendapat restu dari kadua orang tuanya. Sekarang saatnya aku membuktikan pada orang tua Anita keseriusan cintaku pada Anita.
“Yah, akan ku kejar restu Ayah dan ibumu Anita...“ kataku dalam perjalan dengan penuh semangat.
Sepanjang perjalanan clotehanku selalu keluar memercik semangat dan keberanianku tuk bertatap muka dengan ayah Anita serta tuk memintakan izin Anita mengikuti acara reunian teman SMPnya. Akhirnya sampai ku didepan rumah Anita, ku matikan motor dan ku buka helm yang sedari tadi membalut kepalaku. Tak dapat ku bohongi bahwa jatungku terus berdebar-debar, detaknya pun menjadi tak karuan semakin berdebar ketika aku mengetuk pintu rumah.
“Assalamu’alaikum ??” kata ku sedikit terbata-bata sambil ku ketuk pintu.
Ku dengar didalam rumah suara Anita sedang bersitegang dengan Ayahnya, entah mungkin Anita tak mendapat izin.
“Assalamu’alaikum ??” kataku kembali namun yang sekarang ku lantangkan suaraku.
“Wa’alaikum salam”, terdengar lirih suara Anita menjawab salamku.
Belum hilang suara Anita menjawab salamku, kini Ayahnya yang menjawab salamku dengan suara bagai petir yang mengelegar. Kini bertambah berdebar detak jantungku yang tadi sudah mulai normal. Keringat dingin mulai bercucuran keluar dari keningku pertanda ketakutanku, namun aku harus bisa tunjukan keberanianku.
“Ya Masuk”, kata ayah Anita dengan nada khasnya.
Aku pun bergegas masuk walau dengan perasaan yang sudah tak karuan ini. Langkahku perlahan memasuki rumah. Ku lihat wajah Anita telah memerah seakan menahan jatuhnya air mata.
“Ada perlu apa malam-malam datang ke sini??” tanya Ayah Anita bak seorang polisi yang baru saja menangkap seorang maling.
“Begini Pak, jikalau bapak mengizinkan,saya inginmenghantar Anita ke acara reunian SMPnya pak.” Kata ku setengah terbata-bata dengan perasaan sudah tak karuan.
“Malam-malam begini?? Kenapa tidak saat siang hari?? Nanti kalu ada apa-apa sama anak saya siapa yang mau tanggung jawab?? Siapa ?? Kamu??” kata Ayah Anita yang nadanya semakin tinggi.
“Maka dari itu pak, Anita meminta tolong sama saya untuk mengantarnya ke acara reunian pak. Dan saya siap pak bertanggung jawab seandainya ada sesuatu yang menimpa Anita. Pak saya akan berusaha untuk menjaga Anita, saya mohon beri kesempatan kepada saya Pak”, kataku kian meyakinkan kepada Ayah Anita.
“Apa aku bisa percaya begitu saja dengan anak macam kamu?? Dengan bukti apa kamu bisa menjamin anak saya bisa pulang tepat waktu ke rumah tanpa kurang satu apapun??” tegas Ayah Anita seakan tak mempercayaiku.
“Ayah, aku minta izin keluar bersama Andi ke acara reunian temen SMP, Anita janji Anita akan pulang tepat waktu, dan Anita Akan jaga diri. Ayah percaya kan sama Anita??” pinta Anita yang seakan meyakinkan kepada Ayahnya.
Semakin aku tak tega Anita sampai merengek begitu tuk mendapatkan izin dari ayahnya.
“Pak, Andi janji akan menjaga Anita dan Andi akan mengantar Anita pulang tepat waktu. Apabila Bapak belum percaya ini saya tinggali nomor hp bapak dan ibu Andi. Silahkan dicek dulu nomernya Pak” yakinku kepada Ayah Anita.
Kulihat perubahan raut wajah Ayah Anita yang seakan mulai menaruh rasa percaya padaku.
“Hmm, baiklah. Andi, bapak titip Anita jaga baik-baik. Bapak sekarang percaya sama kamu, namun jika sampai terjadi apa-apa sama anakku. Kamu tanggung sendiri akibatnya.” Kata Ayah Anita yang mulai melihatkan senyumnya padaku.
“Sungguh pak??” tanyaku penuh harapan.
“Iya Ndi, dah sekarang berangkat keburu larut malam”, jawab Ayah Anita dengan sepercik senyum di wajahnya.
“Terimakasih ya Pak, Anita pasti Andi jaga baik-baik.”, kata ku sambil berjabat tangan dengan Ayah Anita.
Ayah Anita hanya menjawabnya dengan anggukan kepala, yang tersirat banyak arti bagiku.
“Yuk Anita, keburu telat.” Kataku mengajak Anita.
“Ayah, aku berangkat dulu ya.” Izin Anita dengan senyum bahagia.
“Hati-hati ya nak, jaga diri baik-baik pulangnya jangan kemalaman”, pesan Ayah Anita kepada Anita.
Anita berjabat tangan dan mencium tangan ayahnya. Ku pakai helm, dan mempersilahkan Anita tuk menaiki motorku. Kami pun berangkat menuju acara reunian temen SMP Anita dengan hati yang bahagia. Setelah beberapa saat sampailah kami di tempat acara. Tak berselang lama acara itu pun dimulai, terlihat raut wajah penuh kerinduan diantara mereka. Mereka saling jabat tangan, bercanda ria, saling bercerita.
Waktu kian larut malam dan pukul 22.00 acara itu selesai. Anita aku antar pulang, walau dingin mulai menghinggapi diriku, aku tetap satu tujuan yakni mengantar pulang Anita sampai rumah dengan selamat aku tak ingin kepercayaan yang telah diberikan Ayah Anita hilang. Jalanan yang sepi kami lewati bersama, tak ada perasaan takut yang merasuki aku. Setelah setengah jam perjalanan sampailah Aku dan Anita di rumah Anita. Mendengar suara motor, Ayah Anita keluar dan berdiri tepat didepan pintu seakan menyambut kepulangan anaknya.
“Ayah,” sapa Anita kepada Ayahnya dan mencium tangan ayahnya.
“Andi kesini”, panggil Ayah Anita kepadaku.
“Aduh, aku mau diapain ini??”, kata ku dalam hati yang seakan cemas.
“Ada, ada yang bisa saya bantu Pak??”, kata ku setengah terbata-bata.
“Bukan Ndi, Bapak mau mengucapkan banyak trimakasih sudah menjaga baik-baik putriku dan menghantar pulang tepat waktu.”, ucap Ayah Anita padaku dengan senyuman yang membuatku lega.
“Sama-sama Pak, Andi juga seneng Bapak bisa mempercayai Andi tuk menjaga putri Bapak.” Kata ku dengan perasaan yang begitu bahagia.
“Trimakasih ya Ndi dah temenin aku tadi, pulangnya hati-hati ya.”, kata Anita dengan senyum yang begitu manis.
“Berhubung sudah malam Andi minta izin mau pulang Pak.”, kata ku meminta izin kepada Ayah Anita.
“Hati-hati Ndi pulangnya, salam buat Bapak Ibumu dirumah.”, ujar Ayah Anita.
“Insya Allah Pak nanti sesampai di rumah saya sampaikan, Assalamu’alaikum Pak, assalamu’alaikum Anita.”, pamitku kepada Ayah Anita dan Anita.
Perlahan langkahku kian menjauh, kembali ku kenakan helm serta jaket. Suasana sepi dan dingin seakan terus menemani perjalananku hingga akhirnya aku sampai di rumah tercinta.Sungguh malam ini bener-benar menjadi malam yang begitu indahdan mungkin tak kan bisa terhapus dari pikiranku. Dan semenjak itu pula hubunganku dengan Anita semakin baik karena Ayah Anita telah memberikan restu yang selama ini begitu aku harapkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar