Sabtu, 15 Desember 2012


Asal Mula Kota Yogyakarta Hadiningrat


Antara tahun 1568-1586 di pulau Jawa bagian tengah, berdiri Kerajaan Pajang yang diperintah oleh Sultan Hadiwijaya, dimana semasa mudanya beliau terkenal dengan nama Jaka Tingkir. Dalam pertikaian dengan Adipati dari daerah Jipang yang bernama Arya Penangsang, beliau berhasil muncul sebagai pemenang atas bantuan dari beberapa panglima perangnya, antara lain adalah Ki Ageng Pemanahan dan putera kandungnya yang bernama Bagus Sutawijaya, seorang Hangabehi yang bertempat tinggal di sebelah utara pasar dan oleh karenanya beliau mendapat sebutan Ngabehi Loring Pasar

Sebagai balas jasa kepada Ki Ageng Pemanahan dan puteranya itu. Sultan Pajang kemudian memberikan anugerah sebidang daerah yang disebut Bumi Mentaok, yang masih berupa hutan belantara, dan kemudian dibangun menjadi sebuah "tanah perdikan".

Sesurut Kerajaan Pajang, Bagus Sutawijaya yang juga menjadi putera angkat Sultan Pajang, kemudian mendirikan Kerajaan Mataram di atas Bumi Mentaok dan mengangkat diri sebagai Raja dengan gelar Panembahan Senopati.

Pada permulaan abad ke-18, Kerajaan Mataram diperintah oleh Sri Sunan Paku Buwono II. Setelah beliau wafat, terjadilah pertikaian keluarga, antara lain salah seorang putera beliau dengan salah seorang adik beliau, yang merupakan pula hasil hasutan dari penjajah Belanda yang berkuasa saat itu. Pertikaian itu dapat diselesaikan dengan baik melalui perjanjian Giyanti, terjadi pada tahun 1755, yang isi pokoknya adalah Palihan Nagari, yang artinya pembagian Kerajaan menjadi dua. Yakni Kerajaan Surakarta Hadiningrat dibawah pemerintahan putera Sunan Paku Buwono III, dan Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat dibawah pemerintahan adik kandung Sri Sultan Hamengku Buwono ke I. Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat ini kemudian disebut sebagai Jogyakarta dan sering disingkat menjadi Jogja.

Pada tahun 1813, Sri Sultan Hamengku Buwono I, menyerahkan sebagian dari wilayah Kerajaannya yang terletak disebelah barat sungai Progo, kepada salah seorang puteranya yang bernama Pangeran Notokusumo untuk memerintah di daerah itu secara bebas, dengan kedaulatan yang penuh. Pangeran Notokusumo selanjutnya bergelar sebagai Sri Paku Alam I, sedangkan daerah kekuasaan beliau disebut Adikarto.

Jumat, 14 Desember 2012


NASKAH DIALOG DRAMA
“ Harta Penggoda Iman ”

Pada jam kerja di suatu kantor perpajakan, bos pajak tengah mengeluh tentang kebutuhan keluarganya. Di saat bersamaan malaikat dan setan berlomba , malaikat terus berusaha untuk menuntun bos pajak itu ke jalan yang benar dan sebaliknya setan justru sangat bersemngat untuk menjerumuskan bos pajak ke lembah dosa.
Bos pajak            : “ Duh aduh,tidak mama,anak sama saja setiap pagi kerjaanny mengeluh terus minta ini minta itu. Mama minta nya papa nanti siang di mall ada diskon besar besaran mama pngen baju kosmetik dan barang barang lain.ini yang anak mintanya pa beliin motor baru biyar bisa  motor motoran bareng sama temen. Huh pusing pusing gaji sama pengeluaran kok banyak banget keluarannya. Dari mana aku dapat uang lebih? ”
Malaikat              :  “ Sudahlah bos, jangan terlalu dipikir ajarkan saja istri dan anakmu untuk mengatur keuangan jangan boros boros.ajarkan juga mereka untuk dapat bersabar pasti ada jalan keluar untuk mencukupi  kebutuhan. “
Setan                                    : “ Heh bos, jangan mau dibohongi sama malaikat . hahahahah ,,sabar ??? jaman sekarang kok sabar ingat mau kasih makan apa anak dan istrimu. Sabar??? Hahaha bos bos jangan bodoh. ”
Tak lama kemudian sekertaris dari perusahaan “Maju Mundur” datang dan berniat untuk menyuap bos pajak agar pengurusan perpajakan perusahaannya bisa ringan.
Sekertaris           :  “Permisi.” (sambil mengetuk pintu ruangan bos pajak)
Setan                    : ” pucuk dilancip uang pun datang. Hahaha...  uang datang bos.”
Bos paajak          : “ Iya silahkan masuk.”
Malaikat              : ” Jangan tergiur bos tetap teguhkan iman mu. ”
Bos pajak             : “ Silahkan duduk, ada keperluan apa ? “
Sekertaris           : “ Teima kasih Pak, begini Pak saya diutus oleh perusahaan Maju Mundur untuk memberi bapak hadiah. “
Bos pajak             : “ Hadiah apa yang anda maksud ?? “(terkejut)
Sekertaris           : “ Hadiah bila bapak mau untuk mengurus agar perpajakan perusahaan kami  menjadi  ringan . ”
Setan                    : “ Terima saja bos ,hadiah kok ditolak. Pikir dulu bos! “
Malaikat              : “ Jangan tergoda bos itu uang haram, mau istri dan anak mu makan dari uang haram itu? “
Setan                                    : “ Hei malaikat jangan campuri urusan ku untuk menggoda orang ini, biarkan saja orang ini jadi orang yang tamak dan serakah. Kan juga dia sendiri yang menanggung akibatnya. “
Malaikat              : “ Bukan aku mencampuri urusanmu tapi ini tugas ku untuk menyadarkan dan menunutun orang orang ke jalan yang benar. Bos ingatlah bahwa apa yang kamu lakukan ini tak akan membawa kebahagiaan bagi keluargamu. “
Setan                                    : “ Tak usah pikir panjang sikat saja uang itu bos. Tak usah pedulikan apapun, kamu kan bisa bahagia dengan uang itu. “
Sekertaris           : “ Bagaimana pak apakah bapak bersedia untuk mengurus perpajakan perusahaan kami ? Ini hadiah sementara untuk bapak, sisa hadiah akan kami transfer bila bapak setuju. “
Bos pajak             : “ Hahahah tenang saja urusan perpajakan perusahaan saudari bisa saya atur. “ (bos pajak dan sekertaris berjabat tangan sambil menerima hadiah tersebut)
Akhirnya setan tertawa lepas karena ia berhasil  menjerumuskan bos pajak kelembah dosa, bos pajak itu lebih mengutamakan kepentingan keluarga dari pada profesionalitas untuk menjalankan kewajibannya. Hanya kita yang bisa memilih antara kebaikan dan keserakahan. Apa yang kita pilih kelak kita pertanggung jawabkan di akhir zaman. Sesungguhnya orang yang dapat bersabar  jalan keluar selalu menantinya



Karya ,



Marcus Dewantoro